Kamis, 21 September 2017

JUAL ASSET (LAGI)

JUAL ASSET (LAGI)
Lagi sibuk mas? Demikian sebuah WA masuk di hape saya dari salah satu alumni MMBC yang menjadi akrab karena sering diskusi.
Saya menjawab, saya lagi di bekasi mas.
Urusan WTP ya MAS ? dia bertanya.
Saya jawab, Ia benar urusan water treating plant.
Sudah jalan bisnisnya? Demikian dia bertanya lagi
O belum, saya ada kontrak, sudah ada izin, namun perlu modal investasi, sudah 6 bulan cari pinjeman dari bank ngak bisa dapat karena bank di Indonesia khan butuh kolateral. Bank di Indonesia itu bukan bank bisnis, tetapi bank rentenir. Yang penting jaminan.
Atau kalau kita punya streaming income dari perusahaan induk atau ada personal garansi bisa juga jadi kolateral. Mau bisnis sebagus apapun tetap tidak bisa “project base” loan itu jalan saat ini di system perbankan indonesia.
Sayang banget Negara sebesar begini banker dan system keuangannya sangat sedikit variasinya. Dan oemerintah sangat tidak perduli urusan beginian. aw ajar lah karena memang dasarnya bukan pebisnis para banker dan pejabat pemerintahnya.
Demikian kalau sudah urusan bank, saya bisa panjang karena memang bank harus melakukan redefine, difinisi ulang “arti” bank dalam Negara Indonesia. Punya arti baru yang lebih kekinian.
Jadi apa solusinya? Teman saya melanjutkan pertanyaannya.
Saya jawab, saya anda teman, 25 tahun di bank, pernah di Citibank, pernah gabung GE finance dibawah jack welsh pernah direksi bank plat merah panjang 14 tahun kalau di total, sekarang sedang menikmati masa jeda sebentar tidak lagi direksi di bank.
Otak dan idenya cemerlang. Real banker, dari keluarga pengusaha dan politikus handal. Saya yakin kalau dia masuk ke jajaran penting di departemen keuangan atau Dirut BI misalnya, dia akan melakukan hal revolusioner di perbankan.
Kasih dia kesempatan 5 tahun menjabat dirut holding bank pelat merah atau dirut BI apa lagi, bank di Indonesia bisa meningkatkan loan dari 10% an growth pertahun naik dua kali lipat. Alias setiap tahun naik 20% atau 5 tahun naik 100%.
Project base seperti pekerjaan saya yang sudah ada kontrak beli, sudah ada izin, sudah ada teknologi dan EPC langsung di biayai.
WA dari teman saya masuk lagi, bertanya..oh maaf mas, bukan bank pertanyaan saya tetapi proyek mas bagaimana jadinya?
Oalah maaf, saya kira nanya tentang dunia perbankan.demikian saya balas dan lanjut menjawab, kalau proyek saya karena 6 bulan sudah cari sana sini, baik investor local, bank, dan pembiayaan lainya ngak ada, ya akhirnya saya putuskan jual saja.
Kebetulan kemarin ada yang lihat, dari singapura. Saya jual hanya harga pra operasional saja dan sedikit agio. Modal balik plus sedikit keuntungan, saya lepas 100%. Kalau mereka invest balik modal 3 tahun dan 12 tahun mereka ongkang-ongkang kaki.
Kontrak 15 tahun. BOT build operate transfer. Deal nya bagus banget. Sekarang mereka sedang mempertimbangkan harga penawaran.
Ngak sayang mas? Demikian dia bertanya lagi.
Ya sayang tetapi saya ngak punya uang buat investasi dan lagi pra operasional selama 1 tahun, biaya mendapatkan proyek ini sudah keluar banyak saya. sudah ngak tahan. Saya harap tadinya di 2015 sewaktu ambil proyek ini pemerintah pro pengusaha dan perbankan dan lembaga keuangan bisa mengatasinya, eeehh sekarang sama sekali kredit seret ngak jalan. 2 tahun mengarap proyek beginian samapaikita menang tender dan kelengkapan adminstrasinya.
Jadi lepas, dan yang beli semua asing kalau perusahaan begini. Bagi saya exit selama dapat sedikit lebihan ya harus keluar dari pada hilang modal saya.
Investasi berapa mas? Dia bertanya lagi.
90 milyar an mas, dengan kontrak 60 milyar pertahun selama 15 tahun alias 800 milyar kontraknya. Jadi kalau kamu punya 90 milyar, 3 tahun balik modal dan setiap tahun sejak tahun ke 4 dapat kira-kira 25 milyar setahun bersih selama 12 tahun kedepannya.
Yah, saya sudah jalan di 30 bank semua minta kolateral senilai 130 milyaran. Mereka ngak lihat kontrak 800 milyar yang mereka lihat jaminan. Dan saya ngak punya jaminan sebegitu.
Kalau perusahaan asing yang ambil, akusisi perusahaan di Indonesia, maka perusahaan asing tadi sama bank di negaranya di keluarkan modal 90 milyar rupiah. Jadi proyek ini diambil asing, pakai bank asing 3 tahun balik, yang perusahaan asing tadi tinggal keduk harta Indonesia 25 milyar pertahun selama 12 tahun. Saya gigit jari. Tapi modal dapatinnya senilai 5 milyar saya sudah keluarkan saya tawar dengan harga 10 milyar. Ini mau di tawar sama mereka.
Saya pikir, ada uang sedikit keluar deh. Dari pada kena penalty sama buyer, lebih saya exit. Sayang banget pemerintah ngak dukung pengusaha ya?
Saya menulis kalimat terakhir, di WA saya hanya contreng biru dua (sudah terbaca), dan setelah itu berhenti komunikasi kami. Rupanya ngak minat kali dia bicara macam begini . Yo wis, saya lanjut lagi cari peminat proyek air yang punya modal 90 milyar lainnya. Akhir bulan harus mulai pekerjaan, januari 2018 harus sudah first drop.

Sumber :  https://www.facebook.com/mardigu.wowiekprasantyo/posts/10214367289041839

Tidak ada komentar:

Posting Komentar