Sabtu, 23 September 2017

BOOM BUST

BOOM BUST

Ketika kita melihat masalah domestik, atau kalau kita menggunakan bahasa umumnya istilah domestic adalah masalah rumah tangga. Dalam keadaan rumah tangga memperoleh pendapatan pas-pasan (bust) untuk menjalani hidup kita akan terjebak kalau memaksakan berinvestasi. Investasi cocok jika kita memiliki disposable income yang cukup (boom).
Baik, kita bukan mau belajar tentang mengelola keuangan atau financial planning, gampang itu. Karena financial planning adalah mengatur “uang yang sudah ada”. Kalau uang belum ada apa yang mau di atur? Itu bedanya apa yang mau kita diskusikan sekarang. Bagaimana “membuat” uang itu lebih penting.
Bagaimana membuat uang dimasa ekonomi ketat atau kontraksi seperti sekarang ini? nah itu tantangan yang menarik. Kalau buat uang di ekonomi boom ngak usah belajar banyak, nyebur saja. Kalau membuat uang di masa bust, nah itu perlu skill khusus. Jam terbang panjang baru bisa dan kita akan perpendek, bagaimana? Setuju.
Nomor satu jangan pernah salahkan ekonomi kita dengan masalah global, masalah luar negeri jangan di campur dulu. Hanya menteri yang “cemen” yang bilang kalau Indonesia ekonominya “shrinking” karena imbas global, sekali lagi pengamat ekonomi, atau guru ekonomi atau menteri pejabat Negara kalau ngomong seperti ini kita beri nama “cemen”. Sudah segampang itu kita kasih nama untuk mereka.
Kita bukan orang cemen. Kita beda,kita buat uang di masa bust, caranya? Kita awali dengan memahami bahwa ada 4 hal yang kita harus kenal dalam bidang ekonomi mikro termasuk kebutuhan sehari-hari. Ke empat hal itu adalah “gaya hidup”, “keluarga”, “bisnis” dan “investasi”.
Dalam kompartemnisasi mengelola ekonomi rumah tangga, masalahnya ada di 4 hal ini. bagaimana anda meletakan di ke 4 slot tadi menentukan tingi rendahnya “financial quotation” anda, atau istilah saya “prosperity conscious” atau kesadaran kemakmuran.
Kita ambil contoh, kita mau beli smartphone, harga range mulai dari 1 juta hingga 15 juta. Fungsi sama, manfaat sama. Harga berbeda gengsi berbeda, mana yang anda pilih?
Anda pilih iphone, anda masuk “gaya hidup”, anda pilih Samsung atau anda pilih oppo kolomnya geser ke “bisnis”. Mengapa? Karena Samsung atau Oppo harga bekasnya stabil, alias harga dan fungsi uang yang anda manfaatkan masuk “bisnis” kolomnya.
Sekolahkan anak. Ini bisa masuk kolom gaya hidup kalau anda sekolahkan ke global bintaro, bisa masuk kolom “keluarga” kalau di SD negeri, bisa masuk kategori “investasi” kalau sekolah di cikal atau mentari karena anak gubernur dan menteri sekolah di sana.
Bayangkan, sekolahin anak saja bisa masuk beda kolom. Jadi jangan heran kalau anak bungsu saya sekelas dengan anak gubernur dan kakaknya sekelas dengan 2 anak menteri. Dari awal memang “bokis” ya saya ini, memang sontoloyo, sekolah in anak saja pilih dimana anak pejabat dan pengusaha menyekolahkan anaknya.
Secara perhitungan uang, ya pasti lebih biaya nya mahal di banding negeri, tetapi disitulah permainan pengelolaan portofolio.
Jadi, setidaknya kita harus pandai memilah portofolio keuangan kita, uang masuk dan uang keluar. Dan bagaimana uang di keluar kan sesungguhnya kunci yang membuat seberapa cepat uang masuk kembali ke kita.
Kita sepanjang ini menulis, tujuan nya satu, menindak lanjuti tulisan sebelum ini tentang boom and bust ekonomi. Dan untuk memahami boom bust tersebut harus faham mengapa ekonomi ada yang boom ada Negara yang ekonominya menjadi bust. Haanya karena “salah” kompetemen meletakan uang keluar dan cara uang masuk.
Sejauh ini saya meggunakan ilustrasi keuangan keluarga agar faham, dan di saat kita berbicara tentang kuangan organisasi atau perusahaan kurang lebih sama “platform”nya, dan demikian pula dengan APBN, atau pisahkan dua AP anggaran pendapatan dan BN belanja Negara.
AP adalah uang masuk, BN adalah uang keluar. Yang membuat pusing pemerintahan sekarang karena masih gagap menjadikan Gap AP dan BN sekarang “short” 365 triliun yang bingung “cover gap” nya akhirnya “cemen” milih utangan. Eeehmmm mau di tolong ngak nih? Yuuk mari, kita lanjut.

Sumber : https://www.facebook.com/mardigu.wowiekprasantyo/posts/10214390158253555

Tidak ada komentar:

Posting Komentar