Minggu, 17 September 2017

JUAL ASAP ITU LEBIH PENTING DARI SATENYA

JUAL ASAP ITU LEBIH PENTING DARI SATENYA.
Kita lanjutkan urusan mc Donald. Ini tulisan ketiga. Dimana dalam dua tulisan terdahulu ada pertanyaan, mc Donald jualan apa? dan banyak yang menjawab macam-macam termasuk property, mainan, life style, suasana dan apapun yang menurut pengetahuan kita dapat.
Namun ketika kita “copy” buat sesuatu yang sama, kita buat yang sama persis seperti apa yang kita fahami tentang Mc Donald, kita meragukan hasilnya, apakah akan banyak yang mengantri atau membeli produk kita?.
Lalu di ujung kalimat tulisan kedua saya akan mengupas dari sisi psikologi karena menurut yang saya tahu, pembelian dan bisnis adalah masalah psikologi. Bukan trading. Dan psikologinya kita bahas dari behavioral analysis.
Agak rumit ya menjelaskan bisnis sampai menyentuh banyak bidang, termasuk psikologi. Benar, manusia dalam mengambil keputusan akan salah kalau kita menganggap menggunakan rasional, atau logic thinking. Ternyata sedikit unsur rasionalnya, bahkan terkadang sepenuhnya keputusan irasional atau emosi.
Di tambah lagi kemajuan teknologi informasi pada saat ini, membuat manusia semakin emosional. Terutama dalam pengambilan keputusan.
Terjadi pergeseran yang telak dimana dulu pemahaman pembelian adalah dengan rumus munculnya kebutuhan atau “need recognition” di ikuti dengan pencarian informasi atau “informational search”, di ikuti dengan evaluasi alternative produk yang akan kita beli atau “evaluation of alternative”, kemudian melakukan pembelian dan penggunaan atau “purchasing dan consumption”.
Ok sekarang kenyataan terbanyak, pada saat anda ke senayan city dimana niatnya mau beli celana jeans dan minyak wangi, ternyata proses “belanja” itu tidak semulus logika kita sewaktu berangkat di awalnya.
Seberapa sering ternyata anda pulang tidak jadi beli celana jeans malah beli baju atasan , tidak jadi beli parfum malah beli handphone terbaru keluaran Samsung.
Dimana rasionalnya? Benerkah tulisan ini? apakah ini pengalaman kita semua atau hanya saya?
Kembali ke mc Donald. Apakah mc Donald laku keras karena lokasinya? Atau laku karena mc buburnya? Karena mc rendangnya? Mc chikennya? Kalau secara rasa semua produk mc Donald biasa saja menurut saya, bahkan lebih enak sate ayam depan RS pertamina, atau ayam mc D? Ayam goreng restoran “melayu pagi sore” masih saya bilang lebih enak dan ngangenin dari pada paket hemat mc chicken.
Atau kita tambah satu lagi deh bisnis nya, starbuck. Starbuck sukses di dunia dan menjadi “darling di wallstreet” hingga saat ini. apa karena frapucino, moccachino, apakah kopinya yang enak? Tidak!
Mc Donald, starbuck sukses dan laku produknya bukan karena apa yang di sebut “content” atau “WHAT TO OFFER” atau apa yang di tawarkan kepada pembeli. Mc Donald suskes bukan karena makanan. Starbuck sukses bukan karena kopi.
“Content” adalah sesuatu yang berhubungan dengan rasional kita.
Misalnya kita membeli sepatu, kita ingin sepatu tersebut kuat, bagus dan tahan lama.kita ingin membeli makanan, maka makanan tersebut enak ngak? Murah ngak? Mengenyangkan apa tidak porsinya? Atau bahkan makanan tersbeut sehat atau tidak. Semua itu berhubungan dengan rasional. Itu adalah “content”.
Sementara, “context” terkait dengan emosi.
Kalau kita bicara emosi cenderung tidak rasional. Fanatisme misalnya itu karena emosi, bukan karena pemikiran rasional.
Coba kita lihat, apa hubungannya wanita cantik di samping mobil mewah? Apa hubungannya koboi dengan rokok Marlboro? Apa hubungannya kecantikan the body shop dengan “againt animal testing”.
Sekilas memang tidak nyambung, tapi itulah “context”, itulah emosi.
Sekali lagi mc Donald bukan melulu karena makanannya. Strabuck, subway, cipotle sekali lagi bukan karena makanannya atau minumnnya. Merek-merek besar tersebut, menjadi besar sejak “day one” karena konsep “context”nya.
Context adalah HOW TO OFFER. How? Bagaimana CARA anda menawarkan produk, jauh lebih penting dari APA yang anda tawarkan ke pelanggan anda.
Mc Donald sukses karena konsep “service, cleanliness, dan family value”nya.
Keramahan pada anak-anak, tersedia tempat bermain, termasuk event-event di saat hari khusus seperti ulang tahun dan pesta anak lainnya.
Merchandise anak-anak, the toy story, hello kitty, moana, dan banyak lagi lainnya mempertahankan citra atmosphere restoranta yang “fun dan friendly”.
Itu semua adalah context, itu semua adalah emosi.
Sekali lagi dari sisi yang lain, saat ini “content”saja tidak cukup. Untuk memenangkan kompetisi bisnis masuk ke emosi ke “context”. “content” itu sesuatu yang “given”, sesuatu yang biasa-biasa saja.kita harus memanfaatkan kekuatan “context” agar memberi “value” yang unik.
Bagaimana membuat context dari produk kita? Karena mungkin produk sahabt bukan makanan, bukan minuman, tapi khan ada ribuan content lainnya. Bagaimana behavioral analysisnya sehingga bisa membuat context yang menarik. Nah ini pertanyaan serius yang harus di jawab serius. Masih mau lanjut? Si sontoloyo begini kok di percaya sih? Dia kan nyerang LBP sama Rinso dan sering serang pemerintah, kok di minta terusin gitu loh. Gak bener nih orang khan begitu banyak komentarnya. Atau masih lanjut pelajarannya? Saya sih hayuu ajah.

Sumber : https://www.facebook.com/mardigu.wowiekprasantyo/posts/10214338699847127

Tidak ada komentar:

Posting Komentar